menjaga hati

danbo2_photo

menjaga hati.  lagu miliknya Yovie – Nuno. Sepenggal lagu bernuansakan cinta. Mukin lagu ini cocok untuk di dengarkan untuk sepasang kekasih yang harus berpisah, disisi lain salah satu dari pasangan tersebut sangat menyayanginya. Tetapi dia memilih untuk menjaga hatinya walaupun hati pasangannya telah berpaling.

Lyrick yang mendalam dalam lagu ini

biarkan aku menjaga perasaan ini
menjaga segenap cinta yang telah kau beri
engkau pergi aku takkan pergi
kau menjauh aku takkan jauh
sebenarnya diriku masih mengharapkanmu

Dalam penggalan lyrick diatas, seseorang yang sedang putus cinta tetap menjaga hati untuk kekasihnya, menjaga segenap cinta dan kasih sayang yang pasangannya berikan walaupun pasangannya menjauh tetapi  dia tetap mempertahankan cintanya

Saya tahu memang sangat susah jika sedang putus cinta bagi orang yang benar-benar tulus mencintainya, ada perasaan kecewa, sedih, teringat semua kebiasaannya, lagu-lagu yang sering dinyanyikan berdua, tidur tidak nyenyak pikiran tidak tenag, susah konsentrasi belajar

Tetapi menurut saya, apapun keputusan dalam suatu hubungan kita harus ikhlas menerimanya jika perpisahan pun  itu memang pilihan terbaik. Bukankah cinta tak harus memiliki? Kita jalani saja mukin ini proses yang harus kita jalani agar kita menjadi lebih dewasa lebih kuat menjalani hidup dan mukin ini cobaan untuk menuju kesuksesan. Kalau Tuhan berkehendak jodoh, “Cinta Tau Dimana Dia Harus Kembali”, jika sebaliknya mukin Tuhan punya rencana yang lebih baik.

Bair waktu yang menjawab, bagaimanapun Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan umatnya.

Lirik Yovie Nuno – Menjaga Hati

masih tertinggal bayanganmu
yang telah membekas di relung hatiku
hujan tanpa henti seolah bertanda
cinta tak disini lagi kau telah berpaling

REFF:
biarkan aku menjaga perasaan ini
menjaga segenap cinta yang telah kau beri
engkau pergi aku takkan pergi
kau menjauh aku takkan jauh
sebenarnya diriku masih mengharapkanmu
ooh oooh

masih adakah cahaya rindumu
yang dulu selalu cerminkan hatimu
aku takkan bisa menghapus dirimu
meskipun kulihat kau kini diseberang sana

REFF

andai akhirnya kau tak juga kembali
aku tetap sendiri menjaga hati

REFF 2x

sejujurnya ak masih mengharapkanmu
oooh ooohh

Advertisements

Model-model Pengajaran

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pembelajaran suatu kegiatan yang dirancang oleh guru agar siswa melakukan keiatan belajar, untuk mencapai tujuan atau kompetensi yang diharapkan . dalam merancang kegiatan pembeajaran ini, seorang guru semestinya memahami karakteristik siswa, tujuan pembelajaran, yang ingin dicapai atau kompetensi yang harus dikuasai siswa, materi ajar yang akan disajikan, dan cara yang digunakan terus mengemas penyajian materi serta penggunaan bentuk dan jenis penilaian yang akan dipiih untuk melakukan mengukuran terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran atau kompetensi yang telah dimiliki siswa.

Dalam makalah ini menekankan model-model pengajaran yang meliputi model-model interaksi sosial, model-model personal dan model-model sistem perilaku. Model-model interaksi sosial menekankan relasi individu dengan masyarakat dan orang lain. Model-model personal  yang menekankan pada pengembangan individu untuk menjadi pribadi yang utuh, percaya diri dan kompeten. Dan Model-model sistem perilaku menekankan pada upayanya untuk mengubah perilaku yang tampak dari para siswa.

Rumusan Masalah:

  • Apa saja model-model pengajaran berbasis interaksi sosial ?
  • Apa saja model-model pengajaran personal ?
  • Apa saja yang termasuk dalam model-model sistem perilaku?

Tujuan:

  • Mengetahui model-model pengajaran berbasis interaksi sosial
  • Mengetahui model-model pengajaran personal
  • Mengetahui model-model sistem perilaku

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. MODEL-MODEL INTERAKSI SOSIAL

Model-model dalam kategori ini menekankan relasi indvidu dengan masyarakat dan orang lain. Sasaran utamanya adalah untuk membantu siswa belajar bekerja sama, mengidentifikasi dan menyelesakan masalah, baik yang sfatnya akademik maupun sosial. Tujuan-tujuan utamanya adalah :

  1. Membantu siswa bekerja sama untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah
  2. Mengembangkan skill hbungan masyarakat
  3. Meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai personal dan sosial

Model-model yang termasuk dalam kategori ini antara lain :

  1. Model pembelajaran kooperatif

Kelompok: model interaksi sosial

Teoretikus utama: Johnson dan Johnson (1974), Robert Slavin (1983),  Shloma Sharan(1980)

Bekerja dalam sebuah kelompok yang terdiri dari tiga atau lebih anggota pada hakikatnya dapat memberikan daya dan manfaat tersendiri. Hal ini pernah dikemukakan oleh Roger Johnson dari Universitas Minnesota (Johnson dan Johnson,1974). Robert  Slavin (1983) dan Shlomo Sharan (1980) juga menyatakan hal yang sama. Secara  khusus, mereka meneliti apakah tugas kerja sama dan strktur rewarddapat mempengaruhi hasil pembelajaran secara positif ataukah tidak. Selain itu, mereka jga merekomendasikan adanya peningkatan kesatuan kelompok, tingkah laku bekerja sama dan relasi antarkelompok melalui prosedur pembeajaran yang kooperatif. Salah satu asumsi yang mendasari pengembangan pembelajaran kooperatif adalah bahw sinergi yang muncul melalui kerja sama akan meningkatkan moivasi yang jauh lebih besar daripada melalui lingkungan kompetitif individua. Kelompok-kelompok sosial integratif memliki pengaruh yang lebih besar daripada kelompok yang dibentuk secara berpasangan. Perasaan saling keterhubungan, menurut mereka dapat menghasilkan energi yang positif.

a. Sintak

Tahap 1 : Persiapan Kelompok

  • Guru memilih metode, teknik, dan struktur pembelajaran kooperatif
  • Guru menata ruang kelas untuk pembelajaran kelompok
  • Guru merangking siswa untk pembentukan kelompok
  • Guru menetukan jumlah kelompok
  • Guru menentukan kelompok-kelompok

Tahap 2: Pelaksanaan Pemebelajaran

  • Siswa merancang team building denan identitas kelompok
  • Siswa dihadapkan pada persoalan
  • Siswa merumuskan tugas dan menyelesaikan persoalan
  • Siswa bekerja mandiri, lalu belajar kelompok

Tahap 3: Penilaian Kelompok

  • Guru menilai dan menskor hasil kelompok
  • Guru memberikan penghargaan pada kelompok
  • Guru dan siswa mengevaluasi perilaku anggota

b. Sistem Sosial

Sistem sosial dalam model kooperatif begitu menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis yang didasarkan pada kesepakatan kolektif antaranggota dalam setiap kelompok. Aktivitas kelompok disajikan melalu struktur eksterna minimalis yang dimediasi oleh seorang guru. Siswa maupun guru memiliki status yang sama mani peran yang berbeda dalam mengefektifkan pembelajaran kooperatif ini. Siswa berperan sbagai pelaksana diskusi, sementara guru bertugas sebagai fasilitator dalam mendesain lingkungan kooperatif yang kondusif.

c.Peran/Tugas Guru

Dalam model ini, guru terkadang berperan sebagai konselor, konsultan, dan terkadang pula sebagai pemberi kritik yang ramah. Dia harus membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok dalam beberapa tingkatan berikut ini : pertama, pemecahan masalah atau level tugas(apa masalahnya ? apa saja faktor yangterlibat di dalamnya), kedua, level management kelompok(informasi apa yang dibutuhkan saat ini bagaimana mengatur kelompok untuk membicarakan informasi tersebut?), dan ketiga, level pribadi (apa tanggapan masing-masing anggota mengenai kesimplan yang telah diperoleh kelompok? Langkah lain apa yang akan dilakukan setelah memperoleh kesimpulan tersebut?)

d. Sistem Dukungan

Sistem dukungan dalam pembelajaran kooperatif haruslah ekstensif dan responsif teradap semua kebutuhan siswa. Sekolah harus dilengkapi dengan sebuah ruang perpustakaan yang menyediakan informasi dari erbagai macam media;sekolah juga harus bisa menyediakanakses terhadap referensi-referensi luar. Siswa haruslah didorong untuk melacak dan menghubungi orang-orang yang bisa dijadikan referensi di luar sekolah.

e. Pengaruh

Model ini angatlah menarik dan bermanfaat, serta komprehensif; ia memadukan antara tujuan penelitian akademik, integrasi sosial, pembelajaran, proses kolektif. Model ini bisa diterapkan untuk semua subjek pelajaran, pada siswa dalam semua tingkatan umur, jika guru memang berkeinginan untuk menekankan proses  formulasi dan pemecahan masalah dalam beberapa apek ilmu pengetahuan dibanding memasukkan informasi yang belum ditetapkan. Diantara pengaruh instruksional model ini adalah efektivitas pengelolaan kelompok, konstruksi pengetahuan, dan kedisiplinan dalam penelitan kolaboratif. Sementara itu, pengaruh pengiringnya antara lain: kemandirian sebagai pembelajar, penghargaan pada hak orang lain, peneltian sosial sebagai pandangan hidup, dan kehangatan dan interprestasi interpersonal.

  1. Model Bermain Peran

Kelompok: Model Interaksi Sosial

Role playing (bermain peran) merupakan sebuah model pengajaran yang berasal dari dimensi pendidikan individu maupun sosial. Model ini membantu masing-masing siswa untuk menemukan makna pribadi dalam dunia sosial mereka dan membantu memecahkan dilema pribadi dengan bantuan kelompok. Dalam dimensi sosial, model ini memudahkan individu untuk bekerja sama dalam menganalisis kondisi sosial, khususnya masalah kemanusiaan. Model ini juga menyokong beberapa cara dalam proses pengmbangan sikap sopan dan demokratis dalam menghadapi masalah. Esensi role playing adalah keterlibatan partisipan dan peneliti dalam situasi  permasalahan dan adanya keinginan untuk memenculkan resolusi damai serta memahami apa yang dihasilkan dari keterlibatan langsung ini. Role playing berfungsi untuk 1). Mengekslporasi perasaan siswa, 2). Mentransfer dan mewujudkan pandangan mengenai perilaku, nilai, dan persepsi, 3). Mengembangkan skill pemecahan masalah dan tingkah laku 4). Mengeksplorasi materi pelajaran dengan cara yang berbeda.

  1. Sintak

Tahap  1: pemanasan suasana kelompok

  • Guru mengidentifikasi dan memaparkan masalah
  • Guru menjelaskan masalah
  • Guru menafsirkan masalah
  • Guru menjelaskan role playing

Tahap 2 : seleksi partisipan

  • Guru menganalisis peran
  • Guru memilih siswa yang akan melakukan peran

Tahap 3 : pengaturan setting

  • Guru mengatur sesi-sesi peran
  • Guru menegaskan kembali tentang peran
  • Guru dan siswa mendekati situasi yang bermasalah

Tahap 4 : persiapan pemilihan siswa sebagai pengamat

  • Guru dan siswa memutuskan apa yang akan dibahas
  • Guru memberi tugas pengamatan terhadap salah seorang siswa

Tahap 5 : pemeranan

  • Guru dan siswa memulai role play
  • Guru dan siswa mengukuhkan role play
  • Guru dan siswa menyudahi role play

Tahap 6 : diskusi dan evaluasi

  • Guru dan siswa mereview pemeranan(kejadian, posisi, kenyataan)
  • Guru dan siswa mendiskusikan fokus-fokus utama
  • Guru dan siswa mengembangkan pemeranan selanjutnya

Tahap 7 : pemeranan kembali

  • Guru dan siswa memainkan peran yang berbeda
  • Guru memberi masukan atau alternatif perilaku dalam langkah selanjutnya

Tahap 8 : diskusi dan evaluasi

  • Dilakukan sebagaimana pada tahap 6

Tahap 9 : sharing dan generalisasi pengalaman

  • Guru dan siswa menghubungkan situasi yang diperankan dengan kehidupan di dunia nyata dan masalah-masalah lain yang mungkin muncul
  • Guru menjelaskan prinsip umum dalam tingkah laku
  1. Sistem Sosial

Sistem sosial dalam model ini cukup berstuktur. Guru memiliki tanggung jawab, setidak-tidaknya pada awal permainan, untuk memulai tahap-tahap dan membimbing siswa melalui aktivitas dalam tiap tahap. Meski demikian, materi khusus dalam diskusi dan pemeranan ditentukan oleh siswa. Pertanyaan yang diajukan guru harus mendorong ekspresi yang diajukan guru seharusnya dapat mendorong ekspresi yang jujur serta bebas dan menggambarkan perasaan atau pikiran siswa yang sebenarnya. Guru harus menanamkan kualitas dan kepercayaan antara dirinya dan siswa-siswanya. Guru bisa melakukan ini dengan menerima semua saran sebagai hal yang absah dan konstruktif. Dengan cara ini, maka semua peran yang dimainkan siswa akan tampak mencerminkan perasaan atau sikap siswa yang sebenarnya. Yang terpenting, meskipun guru bersikap reflektif dan suportif selama proses ini, siswa tetaplah pihak yang berperan mengambil alih atau mengontrol arah pelajaran. Sementara disisi lain, guru bisa mengobservasi secara langsung tingkah laku siswa dengan berpegangan pada karakteristik pertanyaan yang diajukan siswa.

  1. Peran/Tugas Guru

Lima peran penting guru dlam model ini, pertama, guru seharusnya menerima semua respons dan saran siswa, khusunya pendapat dan perasaan mereka, dengan cara yang tidak terkesan menghakimi. Kedua, guru harus membantu siswa menelusuri sisi-sisi yang berbeda dalam situasi permulaan tertentu, memperhitungkan, dan mempertimbangkan alternatif yang muncul dari sudut pandang yang berbeda. Ketiga, dengan merefleksikan, memparafrasa, dan merangkum respons ini, guru dapat meningkatkan kesadaran siswa mengenai perasaan dan pikiran mereka sendiri. Keempat, guru harus menitikberatkan bahwa ada beberapa cara berbeda untuk memainkan peran yang sama dan ada pula konsekuensi berbeda yang akan  mereka temui dari proses pemeranan ini. Kelima, ada banyak cara alternatif untuk memecahkan suatu masalah tidak ada satu jalan yang mutlal benar. Guru membuta siswa mempertimbangkan dan melihat konsekuensi-konsekuensi dari solusi yang diperoleh dan membandingkannya dengan alternatif lain.

  1. Sistem Dukungan

Materi yang ada dalam role playing sangatlah sedikit, namun semuanya sama-sama penting.

Perangkat utamanya adalah situasi permasalahan. Situasi ini terkadang membantu dalam membentuk dan mengarahkan peran. Situasi permasalahan dapat memfasilitasi penggambaran peran atau perasaan masing-masing karakter yang harus dipertunjukkan oleh siswa. Selain itu, film, novel,dan cerpen merupakan sumber-sumber penting yang dapat dijadikan referensi untuk mencari situasi permasalahan. Satu atau beberapa karakter bisa menghadapi dilemma dalam menuntukan pilihan atau tindakan. Ceritapun berakhir namun tak terselesaikan.

  1. Pengaruh

Role playing diatur secara khusus untuk mendidik siswa dalam : (1) menganalisis nilai dan perilakunya masing-masing., (2) mengembangkan strategi-strategi pemecahan masalah interpersonal ataupun personal, dan (3) meningkatkan rasa empati terhadap orang lain. Sementara itu, pengaruh pengiringnya adalah untuk memperoleh informasi mengenai masalah dan norma sosial sekitar.

  1. model penelitian yuridis

Kelompok : model interaksi sisial

Teoretikus utama: Donald Oliver dan James P. Shaver

Donald Oliver dan James P.Shaver (1966/1974) menggagas suatu gaya penelitian hukum untuk membantu siswa belajar berfikir secara sistematis mengenai isu-isu kontemporer. Model ini mengharuskan siswa merumuskan isu-isu tersebut sebagai persoalan kebijakan publik dan menganalisis posisi mereka sendiri. Dengan memberikan perangkat untuk menganalisis dan mendiskusikan isu sosial, pendekatan hukum akan membantu siswa berpartisipasi dalam menjabarkan nilai-nilai sosial.

a. Sintak

Tahap 1 : Identitas Kasus

  • Guru memperkenalkan materi kasus
  • Guru mereview fakta

Tahap 2 : Identitas Isu

  • Siswa membuat sintesis antara fakta-fakta dan isu-isu kebijakan publik.
  • Siswa memilih satu isu kebijakan publik untuk didiskusikan.
  • Siswa mengidentifikasi nilai dan konflik.
  • Siswa mengenali fakta dasar dan permasalahan seputar definisi.

Tahap 3 : Pemilihan Posisi

  • Siswa mengartikulasikan posisinya.
  • Siswa mengungungkapkan prinsip dasar dari nilai sosial atau konsekuensi suatu keputusan.

Tahap 4 : Eksplorasi sikap, Pendirian, dan Argumentasi.

  • Siwa menjelaskan nilai-nilai yang dilanggar.
  • Siswa membuktikan konsekuensi prinsip yang di inginkan dan yang tidak diinginkan (faktual).
  • Siswa membuat prioritas.
  • Siswa menegaskan prioritas dan memaparkan minimnya pelanggaran di dalamnya.

Tahap 5 : penegasan dan kualifikasi hidup.

  • Siswa menegaskan posisinya serta alasannya memilih posisi tersebut.
  • Siswa mengualifikasi posisi.

Tahap 6 : Uji Asumsi Faktual di Balik Posisi yang Dianggap Terbaik.

  • Siswa mengidentifikasi asumsi faktual dan menentukan apakah asumsi tersebut relevan atau tidak.
  • Siswa menentukan konsekuensi-konsekuensinya dan menguji validitas aktualnya ( apakah benar-benar akan terjadi?).

b.Sistem Sosial

Struktur dalam model ini terbentang dari level tertinggi hingga terendah, Pertama-tama, guru memulai strategi ini dengan berpindah dari satu tahap ke tahap lain, namun dalam beberapatahap tersebut, guru masih bergantung pada kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas. Setelah mempelajari model ini, siswa seharusnya dapat melaksakan prosesnya bantuan siapa pun. Cara demikian membuat siswa mampu memperoleh control maksimum dalam proses penelitian hukum. Dalam model ini, iklim sosial sangatlah kuat dan konfrotatif.

c. Peran/Tugas Guru

Tugas guru, khususnya pada tahap keempat dan kelima, tidaklah bersifat evaluative; artinya, pada tahap itu, guru tidak berposisi untuk member persetujuan atau tidak menunjukan persetujuan. Guruhanya memeriksa subtansi; guru merespons komentar siswa dengan mempertanyakan relevansi, konsistensi, kekhususan atau keumuman, dan kejelasan definitive. Guru juga harus mendorong siswa untuk terus berpikir, sehingga satu pikiran atau urutan alasan dapat dikejar dan diperpanjang untuk kemudian mengantarkan pada kesimpulan yang logis sebelum mulai membahas argument lain. Untuk memainkan peran ini dengan baik, guru harus lah mengantisipasi klaim siswa terhadap nilai dan harus bersiap menantang dan melakukan penjajakan serta pemeriksaan.

d. Sistem Dukungan

Materi utama yang dapat mendukung model ini adalah dokumen-dokumen sumber yang fokus pada situasi permasalahn tertentu, misalnya surat kabar atau berita elektronik dan website. Ada beberapa materi kasus yang sudah dipublikasikan, sehingga upaya untukmengembangkan satu materi dalam suatu kasus tertentu relative mudah dilakukan. Jadi, semua fakta yang berkaitan dengannya dapat dimasukan ke dalam materu-materi kasus, sehingga kasus yang di bahas tidak akan kabur dan membingungkan.

e. Pengaruh

Kemampuan ini mencangkup ketrampilan-ketrampilan dalam mengidentifikasi isu publik, menerap kan nilai sosial, menggunakan analogi untuk mengeksplorasi isu, dan kemampuan untuk mengidentifikasi serta memecahkan definisi, fakta, dan nilai-nilai dalam suatu permasalahan tertentu. Model ini juga dapat membidik kapasitas siswa untuk terlibat dalam memecahkan isu-isu sosial dan merangsang hasrat mereka untuk melakukan tindakan sosial yang positif. Pada akhirnya, model ini dapat menyuburkan nilai-nilai pkuralisme dan sikap hormat pada pandangan dan pendapat orang lain. Meskipun strateg ini terkadang dapat memunculkan respons-respons emosional siswa.

2. MODEL-MODEL PERSONAL

Model-model yang termasuk dalam kategori model ini umumnya berkaitan dengan individu dan mengembangkan diri sendiri. Model-model ini juga berusaha membantu siswa dalam memahami dirinya, mengembangkan cara-cara mengajar diri sendiri. Tujuan utama kategori ini adalah:

  1. meningkatkan harga diri siswa
  2. Membantu siswa memahami dirinya secara utuh
  3. membantu siswa mengenali emosinya dan menjadi lebih sadar bagaimana emosi tersebut bisa berpengaruh terhadap aspek-aspek lain dalam perilaku mereka
  4. membantu mereka mengembangkan tujuan-tujuan belajar
  5. membantu siswa mengembangkan rencana meningkatkan kopentensinya
  6. meningkatkan kreativitas dan gaya permainan siswa
  7. meningkatkan keterbukaan siswa dalam pengalaman –pengalaman baru

Model-model dalam katagori ini:

  1. Model pengajaran tak terarah

Model pengajaran tak terarah di dasarkan karya carl rogers (1961-1971) dan para gagasan dari kontribusi lain ,model ini muncul dari sikap Roger terhadap konsling tak terarah .untuk menghadapi hidupnya secara konstruktif di beri kebebasan sepenuhnya untuk menentukan dan memilih hidupnya tetap terbimbing dan terarah

Model ini menengkankan pada pengembangan gaya pembelajaran yang efektif dan jangka panjang serta pengembangan karakter pribadi yang kuat dan bisa di arahkan .guru dalam model ini haruslah sabar dan tidak memaksakan adanya hasil secara cepat dan segara mungkin .

  1. Sintak

Tahap 1: identifikasi masalah personal

Tahap 2: penelusuran masalah

Tahap 3: pengembangan wawasan

Tahap 4: perancanaan dan pembuatan keputusan

Tahap 5: keterpaduan

Tahap 6:tindakan di luar wawancara

2. Sistem sosial

Sistem sosial dalam strategi ini tak terarah mengharuskan guru sebagai fasilitator atau reflector, yang paling penting di tekankan adalah bahwa siswa bertanggung jawab pada pengolahan proses interaksi atau control, dalam norma-norma dalam konteks ini menyangkut ekspresi secara bebas dan kemandirian serta berperilaku. Rewards dalam wawancara tidak terarah lebih subtil dan bersifat intrinsik, penerimaan, pemahaman dan empati dari guru rewads psikologi dikembangkan oleh siswanya sendiri.

3. Peran atau tugas guru

Tugas guru di dasarkan oleh menggiring siswa pada ranah penelitian, guru berempati pada kepribadian dan masalah yang di hadapi, merespon dengan berbagai cara untuk membantu siswa menjabarkan masalah dan merencanakan sasaran dan metode dalam mencapai karakteristik siswa

4. Sistem dukungan

Sistem dukungan dalam strategi ini berbeda menurut fungsi wawancara. Sesi wawancara adalah untuk menegosiasikan kontrak akademik yang diperlukan dalam pembelajaran terarah. Wawancara mencakup proses konseling dalam masalah masalah perilaku.

5. Pengaruh

Aktifitas pengarajarantidaklah diajarkan secara detail namun ditentukan oleh siswa maka pengaruh lingkungan sangat penting model ini pengaruh berdasarkan keberhasilan siswa dalam mengembangkan diri yang efektif, oleh karean itu model ini bisa diamggap sebagai aktifitas pengasuhan secara keseluruhan.

  1. Model classroom meeting

Pada 1969 ,William Glaser merekomendasikan pelaksanaan classroom meeting sebagai salah satu bagian dari progamnya yang bertajuk “Reality therapy “untuk membantu siswa yang punya masalah dalam perilakuny sehari –hari , proses pembelajaran dan berusaha mengembangkan relasinya dengan sekolah .guru tidak boleh menghakimi siswa dalam interaksi siapapun ,siswa di dorong berkontrobusi terhadap dengan siswa yang lain .

a.sintak

tahap 1 : desain ruangan

  • Guru meminta siswa untuk duduk melingkar.
  • Guru bisa mencari variasi lain dalam merancang posisi duduk siswanya.

tahap 2: alokasi waktu

  • Guru mengalokasikan waktu. Pada tahap ini,diskusi antar siswa tidak boleh melebihi waktu yang telah ditentukan.

tahap 3 : implementasi

  • Guru membuka meeting dengan mendiskusikan masalah-masalah yang terkait.
  • Guru membimbing siswa menuju resolusi permasalahan yang diangkat.

tahap 4 : rekognisi

  • Guru member penghargaan atas partisipasi siswa yang luar biasa dalam pelaksanaan classroom meeting.

b.Sistem sosial

dalam model pengajaran ini, guru harus mendorong agar diskusi bisa sampai pada solusi-solusi yang tidak menyudutkan atau menghakimi siapapun. Intinya, siswa harus didorong untuk mencari pemecahan, bukan celaan. Glasser percaya bahwa sebagian besar sekolah tidak bisa memenuhi beberapa kebutuhan siswanya dalam pelaksanaan kurikulum ini.

c. Peran /tugas guru

menurut Glasser, ada beberapa tugas penting seorang gurudalam classroom meeting, antara lain: menekankan tanggung jawab, membuat aturan-aturan yang menuntun pada kesuksesan, tidak menghakimi, menghargai solusi dan pendapat siswa, menawarkan alternatif-alternatif yang sesuai, konsisten, dan melakukan review berkelanjutan. Peran guru adalah fasilitator siswa yang dapat membimbing mereka menuju pemecahan masalah yang efektif.

d.Sistem dukungan

konteks ruang kelas haruslah di desain sedemikian rupa agar memungkinkan siswa bisa berhadapan dan saling berbagi opini untuk mencapai solusi atas permasalahan tertentu. Desain kelas yang berbentuk lingkaran bisa menjadi alternative.

e. Pengaruh

pengaruh yang bisa dirasakan oleh guru dari pelaksanaan classroom meeting ini antara lain: rasa memiliki dalam diri siswa, motivasi siswa untuk bekerja atas nama kelompok, sharing bantuan dari siswa yang lebih pandai kepada siswa yang kurang pandai, siswa tidak bergantung kepada guru – tetapi lebih mengandalkan kerja sama teman- untuk mencapai solusi atas suatu permasalahan tertentu.

3. MODEL –MODEL SISTEM PERILAKU

Model – model ini menekankan pada upayanya untuk mengubah perilaku yang tampak dari para siswa. Beberapa model yang termasuk dalam kategori ini antara lain : (1) model instruksi langsung dan (2) model simulasi.

  1. model insruksi langsung.

Kelompok: model perubahan perilaku

Teoritikus utama : Rosenshine (1985)

Instruksi langsung memainkan peran yang terbatas namun penting dalam program pendidikan yang komprehensif. Beberapa keunggulan terpenting dari instruksi langsung ini adalah adanya fokus akademik, arahan dan control guru , harapan yang tinggi terhadap perkembangan siswa, system manajemen waktu, dan atmosfer akademik yang relative stabil. Fokus akademik berarti prioritas tertinggi terhadap penugasan dan penyelesaian tugas akademik.  Fokus yang kuat terhadap masalah akademik dapat menciptakan keterlibatan siswa yang semakin kuat dan kemudian, menghasilkan dan memajukan prestasi mereka.

  1. Sintak

Tahap 1 : Orientasi

  • Guru menentukan materi pelajaran.
  • Guru meninjau pelajaran sebelumnya.
  • Guru menentukan tujuan pelajaran.
  • Guru menentukan prosedur pengajaran.

Tahap 2 : Presentasi

  • Guru menjelaskan konsep atau keterampilan baru.
  • Guru menyajikan representasi visual atas tugas yang diberikan.
  • Guru memastikan pemahaman.

Tahap 3 : Praktik yang Terstruktur

  • Guru menuntun kelompok siswa dengan contoh praktik dalam beberapa langkah.
  • Siswa merespons pertanyaan.
  • Guru memberikan koreksi terhadap kesalahan dan memperkuat praktik yang telah benar.

Tahap 4 : Praktik di Bawah Bimbingan Guru

  • Siswa mempraktik secara semi-independen.
  • Guru menggilir siswa untuk melakukan praktik dan mengamati praktik.
  • Guru memberikan tanggapan balik berupa pujian, bisikan, maupun petunjuk.

Tahap 5 : Praktik Mandiri

  • Siswa melakukan praktik secara mandiri dirumah atau dikelas.
  • Guru menunda respons balik dan memberikannya di akhir rangkaian praktik.
  • Praktik mandiri dilakukan beberapa kali dalam periode waktu yang lama.

2.Sistem Sosial

Sistem sosial dalam model instruksi langsung ini benar-benar terstruktur.

3. Peran / Tugas Guru

menyediakan pengetahuan mengenai hasil-hasil, membantu siswa mengandalkan diri mereka sendiri, dan memberikan reinforcement. Yang mencakup rangkaian tugass pembelajaran, yang terkadang sam rumitnya dengan seperangkat materi yang dikembangkan sendiri oleh tim instruktur.

4. Sistem Dukungan

tempat dimana pembelajaran menjadi fokus utama dan tempat dimana siswa terlibat dalam tugas- tugas akademik dalam waktu tertentu. Lingkungan ini harus diciptakan secara positif dan bebas dari pengaruh negatif.

5. Pengaruh

model ini adalah bimbingan dan pemberian respons-balik secara langsung. Rancangannya dibentuk untuk meningkatkan dan memelihara motivasi melalui aktivitas pengendalian diri dan penguatan ingatan terhadap materi-materi yang telah dipelajari. Melalui kesuksesan dan respons-balik positif, model ini mencoba memperkaya penghargaan dari siswa.

  1. Model Simulasi

Kelompok : model perubahan perilaku

Teoretikus utama : Carl Smith dan Mary Smith (1966)

Fokus utama dalam teori ini adalah munculnya kebersamaan antara mekanisme control timbal balik dari system elektronik dengan sistem-sistem manusia. Dengan simulasi, tugas pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa agar tidak begitu rumit daripada yang tampak di dunia nyata, sehingga siswa bisa dengan mudah dan cepat menguasai skill yang tentu saja akan sangat sulit ketika mereka mencoba menguasai di dunia nyata. Keuntungan dari simulasi ini adalah bahwa praktiknya dapat memudahkan siswa mempelajari umpan balik yang dikembangkan oleh siswa itu sendiri.

  1. Sintak

tahap 1 : Orientasi

  • Guru menyajikan topic mengenai simulasi dan konsep yang akan dipakai dalam aktivitas simulasi.
  • Guru menjelaskan simulasi dan permainan.
  • Guru menyajikan ikhtisar simulasi.

Tahap 2 : Latihan Partisipasi

  • Guru membuat skenario (aturan,peran,prosedur,skor,tipe keputusan yang akan dipilih, dan tujuan)
  • Guru menugaskan peran simulasi kepada siswa.
  • Siswa melaksanakan praktik dalam jangka waktu yang singkat.

Tahap 3 : Pelaksanaan Simulasi

  • Guru memimpin aktivitas permainan dan administrasi permainan.
  • Siswa mendapatkan umpan balik dan evaluasi. (mengenai penampilan dan pengaruh keputusan)
  • Guru menjelaskan kesalahan konsepsi.
  • Siswa melanjutkan simulasi.

Tahap 4 : Wawancara Siswa

  • Guru menyimpulkan kejadian dan persepsi.
  • Siswa menyimpulkan kesulitan dan pandangan-pandangannya.
  • Guru dan siswa menganalisis proses.
  • Guru menilai dan kembali merancang simulasi.

2. Sistem Sosial

Dalam system yang terstruktur ini, lingkungan pembelajaran dengan interaksi kooperatif bisa, dan seharusnya, berkembang. Dengan bekerja sama, siswa bisa saling sharing ide, saling mengevaluasi dengan teman-temannya, dan tidak bergantung pada evaluasi guru.

3. Peran / Tugas Guru

Peran guru tidak jauh beda dengan fasilitator. Disini guru bertugas untuk menyajikan, lalu memfasilitasi pemahaman dan penafsiran tentang aturan-aturan simulasi.

4. Sistem Dukungan

Aktivitas-aktivitas simulasi juga di review secara reguker dalam jurnal social education. Dan banyak simulasi computer yang telah dikembangkan pada tahun-tahun belakangan ini.

5. Pengaruh

Model simulasi menuntun pada pencapaian hasil akademik, seperti konsep dan skill,pemikiran kritis,  kesadaran terhadap masing-masing peran,dan menerima konsekuensi dari tindakan yang dilakukan.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Model-model pengajaran yang meliputi model-model interaksi sosial, model-model personal dan model-model sistem perilaku. Model-model interaksi sosial menekankan relasi individu dengan masyarakat dan orang lain. Model-model personal  yang menekankan pada pengembangan individu untuk menjadi pribadi yang utuh, percaya diri dan kompeten. Dan Model-model sistem perilaku menekankan pada upayanya untuk mengubah perilaku yang tampak dari para siswa.

SUMBER:

Huda, M. (2013). Model-model Pengajaran dan Pembelajaran.Yogyakarta:PUSTAKA PELAJAR.

Tanpa nama. (2015). Makalah Model Pembelajaran. Tersedia: http://pindaiilmu.blogspot.co.id/2015/06/makalah-model-pembelajaran.html ( 4 Mei 2016)

 

Minggu ini

9 april

Diary !

Ya Allah maafkan aku minggu ini hari ini aku banyak mengeluh
Merisaukan banyak hal

Semester 4 sangat berat. Banyak tugas, tugas tertulis tugas praktik. Tugas tambahan dari salah satu dosen untuk satu semester ini, Laju, Pulang sore, tidak punya banyak waktu di ormawa seperti dulu lagi,,, sedih.

Aku berharap semester 4 ini aku bisa lebih mengatur waktu, menjaga kesehatan dan nggak baperan. Ndak mudah down saat yg diharapkan tidak sesuai kenyataan

Keluarga yang selalu menyemangatiku terimakasih ya Allah
Dan pacarku yg selalu mengajarkan aku agar tidak menjadi orang yang baperan terimakasih

Aku tidak menyesal jika hari ini aku menangis. aku merasa lega dan lebih baik :’)

Sabar

Dihapus, betweennya dihapus, dibuka aja ga pernah sama dia, sebaliknya dengan saya. Sabar, yang ngajak pake between dulu siapa ?

Pindahan kos, enggak nanyain apa gitu ? Bantuin apa gitu ? Gak ada perhatian untuk ke sana.

Laju, udah tau aku pulang ke sorean. Padahal aku masih lihat motornya di kos temannya. Bbm barengin kek apa gimana gitu ? Sabar

Yang dibutuhkan tidak selalu ada, yang diharapkan tidak selalu datang.

A: pacar, E: teman

A: yuni laju ya ?
E: iya, bareng kamu ya ?
A: enggak.

Kenapa jawabannya “enggak” langsung down mendengar cerita itu dari teman.

Teman-teman selalu mengira aku laju gara-gara aku pengen bareng pacar, banyak sekali yg bilang 5 orang lebih yang bilang gitu, hallo teman-teman kalian salah, pacar ku nggak pernah nawari aku pulang atau berangkat ke kampus bareng, katanya ribet. Memang tidak wajar, tapi kenyataannya itu. Hidupku tidak sebagus yang kalian bayangkan.

Soal ini hanya saya ambil dari satu sisi. Disisi lain pacar saya tidak seburuk itu.

Sekian. :’)

SCOUT

Pramuka itu sudah menjadi bagian dalam hidup saya jadi tidak bisa di pisahkan satu sama lain, ada beberapa pengalaman yang mengesan saat saya kemah ada yang lucu ada yang enggak :

1. Kepleset dan hampir kecemplung d kalenan sawah. Gara” ngarahin peserta buat merangkak di aliran air

2. Ngrebus Mie instan pakek air hujan. Hahaha, yg makan pada g tau kalo itu air hujan. Tp ya enak” aja tuh

3. Nakut”in peserta waktu uji mental, Eh. Malah takut sendiri hehehe

4. Nakut”in peserta waktu uji mental. Pesertanya sampai asmanya kumat. Sumfah yg ini tdk lucu. Yg nakut”in bukan sy lho. Tp teman saya cowok. Hehe

5. Tidur di kuburan. Karena nunggu peserta kelamaan. Tp saya sama teman” saya. Untung saya nggak di tinggal.

6. Pembina pramuka pura” kesurupan

7. Dasa Dharma Pramuka, pramuka itu satu Ketuhanan Yang Maha Esa
Itu Dasa Dharma atau Pancasila coba ? Hahaha 😀

Yang tau dasa pertama silakan komen 🙂
Salam Pramuka !

AKU

Aku adalah awan, tapi kamu mengikuti hujan

Aku menjadi hujan, tapi kamu mengikuti angin

Aku tetap menjadi awan dilangit, tapi kamu mengikuti angin dan menghilang

 

Aku bukan lagu yang kau nyanyikan, aku adalah lagu yang mudah tergantikan

Dan kau punya lagu yang selalu kau nyanyikan

yuni <3 arie

aku bingung harus memposisikan diriku dimana ketika pacarku sedang cuek dengan ku,

apakah aku harus ikut-ikutan cuek ?

apakah aku hanya membiarkan? Tidak mukin

dalam suatu hubungan harus ada komunikasi,

aku kangen saat seperti long distance dulu, meski kita dulu jauh tapi aku merasa kita dekat karena kita selalu komunikasi, telefon ataupun sms.

#aku sedih ketika kamu cuek begitu lama, dirasa dihati tidak enak tapi aku selalu mengingat kata-katamu “jangan dimasukin kedalam hati”